Mensyukuri Nikmat Adalah Nikmat Itu Sendiri

Setiap kali memperhatikan curahan nikmat Allah, saya tidak tahu bagaimana harus mensyukurinya. Saya mengerti bahwa bersyukur adalah bagian dari nikmat, namun harus saya akui bahwa saya banyak melakukan kelalaian. Saya berharap pengakuan ini dapat dianggap sebagai refleksi dari pelaksanaan hak-hak yang saya milliki.

Saya berharap dapat memikirkan pintu-pintu kebaikan. Orang yang shalat ataupun berpuasa hendaknya melihat bahwa dirinyaseperti seorang pelayan yang menunaikan kewajiban kepada tuannya. Saya menganggap shalat dua rakaat yang saya laksanakan adalah demi kepentingan saya karena Dzat yang saya sembah tidak membutuhkan ketaatan saya.

yang aneh adalah jika melakukan pengabdian, seseorang selalu menuntut hak dan bagiannya. Bagaimana mungkin ia melihat dirinya telah banyak melakukan sesuatu padahal apa yang ia lakukan belum seberapa dibandingkan nikmatNya yang tak mungkin dibalas haya dengan pengabdian.

Bagaimana mungkin manusia mensyukuri nikmat padahal bersyukur itu sendiri merupakan nikmatNya?

(dari Imam Ibnu Al Jauzy)

Advertisement

Rem Pilihan Manusia, Gas Karunia Allah

Oleh: Intan Sahara

Big power, big responsibility.

Daya yang besar berarti juga tanggungjawab yang besar. Daya dalam hal ini berarti kekuatan, kemampuan, kapabilitas, dan kapasitas. Seseorang yang memiliki daya yang besar, secara otomatis dituntut untuk memiliki tanggungjawab yang setara dengan daya yang dimilikinya. Seseorang dengan ilmu tinggi lebih memiliki kewajiban untuk mengajarkan ilmunya dibandingkan dengan orang yang belum berilmu. Seseorang dengan harta lebih memiliki kewajiban untuk membagi hartanya dan berbuat banyak dengan hartanya di jalan Allah. Seseorang dengan kesehatan dan tenaga yang kuat ditangungkan kewajiban atasnya untuk bekerja. Semakin seseorang berdaya, semakin berat juga tanggungjawabnya.

Daya juga bukan hanya persoalan kemampuan fisik dan kebendaan. Rohani atau jiwa pun memiliki daya. Kesabaran, ketaatan, ketahanan dalam menahan keinginan maksiat dalam dirinya, ketahanan menahan rasa marah, kemampuan memaafkan, kemampuan meminta maaf, kemampuan menyayangi manusia lain, dan kemampuan berempati serta masih banyak lagi. Daya inilah yang sering terlupakan oleh banyak orang. Orang lebih melihat daya sebagai sesuatu yang bersifat fisik dan kebendaan. Padahal daya jenis inilah yang pertamakali dapat menghantarkan manusia dalam menggapai daya yang bersifat kebendaan dan fisik. Daya rohanilah yang dapat menghantarkan manusia menggapai kesuksesan dunia dan akhirat.

Junjungan kita Muhammad rasulallah saw memiliki daya rohani yang amat dahsyat. Kesabarannya menembus langit. Kemampuannya memaafkan begitu luar biasa. Empatinya terhadap orang-orang lemah sangat mengagumkan. Ketahanannya menahan rasa marah bisa berganti dengan doa. Daya rohaninya yang kemudian memantaskan beliau mendapatkan sebutan yang tinggi di sisi Allah swt. Namanya wajib disebut setelah nama allah disebut dalam kalimat syahadat. Daya fisik dan kebendaannya pun mengikuti daya rohaninya yang luar biasa. Ilmu politik, peperangan, manajemen, pemasaran, ekonomi, strategi perang, etika, menjadi panutan dan mengalahkan ilmu-ilmu sekuler lainnya. Kejayaan Muhammad saw mengubah peradaban hanya memerlukan waktu selama 20 tahun dan hingga kini jejaknya masih menjadi panutan.

Sebelum menulis ini, saya memperhatikan jenis jenis kendaraan. Sepeda, motor, mobil, truk, sekaligus cc dan kecepatannya. Dua komponen dalam kendaraan itu yang kemudian menjadi perhatian utama saya adalah: Gas dan Rem. Semakin besar cc nya, maka semakin besar kekuatan kendaraan tersebut (gas) dan kekuatan remnya. Semakin besar gas nya, maka diperlukan rem yang semakin kuat. Apa yang terjadi jika sepeda ontel yang rem kecilnya kemudian diberi gas dengan spesifikasi truk? Kecelakaan. Tabrakan. Nyungsep. Ah ya bisa saja gas nya jangan kuat kuat. Jangan lupa, kecenderungan manusia itu sering lupa diri. Kendaraan yang ber cc besar memiliki frekuensi untuk membawa pengemudinya ugal ugalan. Kalau pengemudinya kuat mental? Manusia itu dinamika, takkan setiap saat dia kuat. Jadi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, si pencipta kendaraan biasanya memberi kekuatan gas dan rem yang seimbang.

Allah sang pencipta atas dasar kasih sayangNya memberikan karunia berupa gas dan rem yang sama pada seluruh manusia. Bukankah seluruh bayi yang lahir kedunia memiliki ketidakmampuan yang sama? Tapi Dia memberi perangkat yang sama agar manusia dapat berdaya secara fisik kebendaan dan daya secara rohani. “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan aneka hati, agar kamu bersyukur”(Q.S. An-Nahl: 78). Allah memberi manusia perangkat berupa pendengaran, penglihatan dan aneka hati untuk kemudian manusia mencari pengetahuan dengan modal perangkatnya itu. Pengetahuan sebagai hasil pencarian kemudian diolah dengan akal yang membuat manusia menjadi bijak. Kebijakannya itu berupa daya rohani. Daya rohani berupa kesabaran, menahan amarah, menahan hawa nafsu untuk berbuat pelanggaran, kemampuan memaafkan dan meminta maaf, berempati, menyayangi orang lain, kemampuan untuk tidak membalas dendam, menahan diri untuk tidak berbuat zalim, yang saya analogikan sebagai Rem.

Manusia lah yang diberi pilihan apakah modal perangkatnya berupa pendengaran, penglihatan dan hati digunakan untuk menggapai dan memperkuat daya rohaninya ataukah hanya untuk memenuhi hawa nafsu saja. Persoalan daya fisik dan kebendaan berupa ilmu, kekuasaan dan harta saya analogikan sebagai Gas. Gas inilah yang menjadi urusan Allah untuk memberi atau menahannya kepada manusia. Berdasarkan kasih sayangNya ia menahan atau memberi Gas itu agar manusia tidak celaka, tidak sembarangan, tidak terjerumus. Semuanya seimbang. Jika memang Rem kita sebagai manusia semakin hari semakin diperkuat karena menggapai ridhoNya, Insya Allah Gas yang semakin kuat pun akan dititipkan Allah Sang Maha Pencipta kepada kita. Tugas kita adalah memperkuat dan memperbesar daya rohani sebagai Rem untuk Gas yang juga kuat.

Pertanda seseorang belum memiliki rem yang cukup kuat adalah biasa mengeluh dalam menghadapi masalah yang kecil, menyelesaikan persoalan dengan makian dan kemarahan, tidak bisa menjaga amanah, mudah sekali membenci orang lain, belum cukup kuat untuk bersabar ketika dirinya dizalimi. Apalagi kalau rem nya blong, apakah Allah yang Maha Penyayang cukup tega memberi Gas yang kuat pada seseorang dengan Rem yang lemah?

Jangan Putus Asa: Plastisitas Otak

Oleh: Intan Sahara, M.Si

Dua minggu lalu saya menulis mengenai apakah homoseksualitas itu bawaan, hasil dari kerja genetika atau merupakan suatu pilihan sadar dari kesempatan. Runtuhnya teori gen gay telah mengubah pandangan saya-mungkin juga pandangan sebagian orang yang telah paham-bahwa homoseksualitas merupakan pilihan sadar, by chance, dan bubrain gymkanlah suatu takdir seseorang menjadi gay. Sampai saat ini saya memiliki keyakinan bahwa jika manusia berjuang dan benar-benar ingin kembali kepada fitrahnya insya allah selalu ada jalan, Allah SWT berpesan agar kita jangan pernah berputus asa untuk kembali ke jalan yang lurus.

Banyak sekali pandangan yang ada pada sebagian orang yang menentang kebenaran, menentang fitrah, melakukan suatu kesalahan bahwa apa yang dilakukannya dalah suatu takdir. Apakah seseorang diciptakan untuk menjadi pembunuh? Apakah seseorang diciptakan untuk menjadi perempuan nakal di lokalisasi Dolly? Apakah seseorang diciptakan untuk menjadi preman?atau seseorang yang suka celetak celetuk tak bermanfaat itu sudah bawaan orok?

Mengkaji manusia dan perilakunya sangat menarik dan sekaligus sangat kompleks karena manusia itu unik dan paradoksal. Manusia disebut makhluk paradoksal karena sebagai pribadi ia merupakan kesatuan jiwa dan raga. Raga, tunduk pada hukum-hukum materi serta dibatasi oleh ruang dan waktu. Sedangkan jiwa tidak tunduk pada hukum-hukum materi dan tidak dibatasi ruang dan waktu.

Pada bidang kedokteran jiwa manusia itu letaknya di benda bulat dengan konsistensi lunak bernama otak. Pada neuropiskologi perkembangan perilaku manusia didasarkan atas fungsi otak. Otaklah yang mengatur dan menggerakkan apapun yang kita lakukan dan kita rasakan. Setiap perilaku, baik pikiran, perasaan ataupun tindakan manusia berawal dari otak.  Aktivitas mental kita terjadi di otak dan otak bertindak sebagai pusat komando pengendalian perilaku. Otak dan perilaku saling terkait, keduanya dangat kompleks, dan secara evolusioner keduanya berjalan bersama-sama. Otak yang menerima stimulasi dan mengembangkan kemampuan manusia melalui sel-sel otak, neuron dan sinapsisnya. Otak memiliki 100 miliar neuron – 5 triliun neuralgia. Setiap neuron membentuk sampai 200 ribu sambungan ke neuron lainnya yang beisi informasi dari aktivitas yang dilakukan manusia.

Perilaku itu sendiri secara populer berarti berbuat sesuatu (doing things). Perilaku berbuat sesuatu tidak mengharuskan adanya gerakan karena berdiam diri saja sudah termasuk ke dalam perilaku. Hess pada tahun 1930an telah membuktikan bahwa terdapat beberapa pusat di dalam otak yang sangat terkait dengan perilaku seperti “pusat lapar”, “pusat seks”, “pusat agresi”, dan lain lain. Perilaku juga melibatkan semua mekanisme internal seperti proses kognitif dan motivasi, pengalaman belajar dan ingatan. Semua mekanisme internal itu bergantung pada sistem saraf yang sedang berkembang baik. Senang, puas, marah, kasih sayang, takut, sedih merupakan jenis perilaku yang dipengaruhi dan diarahkan oleh perasaan umum.

Perasaan umum atau pusat emosi pun terdapat di dalam otak yaitu di amygdala. amygdala sebagai sumber impuls emosi, gudang emosi. Emosi sangat penting bagi rasionalitas. Goleman (1995) mengungkapkan bahwa dalam liku-liku perasaan dengan pikiran, kemampuan emosional membimbing keputusan individu dari waktu ke waktu saling membahu dengan pikiran rasional mendayagunakan atau tidak mendayagunakan pikiran itu sendiri. Amygdala inilah yang mampu menjelaskan mengapa emosi bisa mengalahkan rasio. Amygdala mampu mengambil alih kendali tindakan, sewaktu otak masih menyusun keputusan. Kemungkinan ‘pembajakan’ emosi ini lebih besar terjadi pada orang yang memiliki kecerdasan emosi rendah.

Begitulah sekilas tentang kaitan otak dengan perilaku dan perasaan manusia.Semua perubahan besar dalam struktur saraf ini paralel dengan perubahan macam kompleksitas perilaku. Makin kompleks sistem saraf maka makin kompleks pula perilaku yang ditampilkan. Belahan-belahan atau pusat di dalam otak yang memiliki peranan masing-masing dalam seluruh jenis perilaku dan emosi manusia. Sirkuit penentu dalam otak yang dibangun dari sejak manusia dilahirkan terus berkembang dan menjadi karakteristik manusia itu sendiri. Mengapa ada manusia yang cenderung tenang, panik, pemarah, pendiam, periang, dan lain lain. Maupun ada manusia yang perilaku menyimpang, agresif, tidak bisa mengendalikan nafsu seksualnya, licik, dan berbagai perilaku kriminal lain.

Penelitian awal percaya bahwa neurogenesis atau penciptaan neuron pada otak berhenti segera setelah manusia dilahirkan ataupun perubahan pada otak hanya terjadi selama masa kanak-kanak. Pada dewasa awal dipercaya bahwa struktur fisik otak telah menjadi sesuatu yang permanen. Namun saat ini otak dipahami sebagai sesuatu yang memiliki kapasitas dan kompleksitas luar biasa. Otak mampu menyusun kembali jalur-jalurnya, sambungan-sambungannya dengan menciptakan koneksi baru dan bahkan menciptakan neuron baru. Penelitian modern membuktikan bahwa otak terus membangun jalur neural baru dan mengubah jalur yang telah ada sebagai hasil adaptasi pada pengalaman baru, mempelajari informasi baru dan menciptakan memori baru.

Kemampuan otak untuk berubah dan beradaptasi sebagai hasil dari pengalaman atau dikenal sebagai neuroplastisitas atau plastisitas otak (brain plasticity). Plastisitas otak juga berarti kemampuan otak berubah secara fisik, fungsi dan kimiawi-sepanjang hidup manusia. Plastisitas otak berlaku sepanjang hidup, bukan hanya pada masa kanak-kanak, bervariasi berdasarkan usia dan selama masa hidup spesifik. Plastisitas otak ini berkelanjutan sepanjang hidup dan melibatkan sel-sel otak daripada neuron. Lingkungan pun memainkan peran utama dalam proses plastisitas otak. Plastisitas otak melingkupi fungsi, struktur dan kimiawi otak. Secara fungsi berarti kemampuan otak untuk berubah secara fungsi dari area yang rusak ke area yang tidak rusak. Secara struktur berarti kemampuan otak untuk benar-benar mengubah struktur fisiknya sebagai hasil dari pengalaman atau belajar. Plastisitas otak bekerja mengacu pada perubahan sebagai hasil dari input lingkungan.

Konsep yang sederhana. Otak berubah secara fungsi, fisik dan kimiawi sebagaimana kita memperoleh kemampuan baru atau mengembangkan kemampuan. Ini artinya berbagai perilaku manusia turut berkembang, mengalami perubahan atau bahkan terhenti dan mengalami kemunduran seiring dengan perubahan otak yang terus terjadi. Implikasi dari perubahan atau plastisnya otak pada perilaku adalah bahwasannya manusia dapat menentukan perilaku apa yang ingin dia ubah dari dirinya. Perilaku apa yang ingin dikurangi. Tentunya hal ini memerlukan kesadaran atau bahasa saya adalah meng “install” nya dalam pikiran rasional. Kesadaran didapatkan melalui informasi, pengetahuan, muhasabah diri, dan nasihat atau bimbingan.

Tidak ada manusia yang terlahir jahat dan menyimpang. Hanya saja diperlukan kesadaran tinggi akan dirinya. Kesadaran ini adalah hasil dari berpikir. Berpikirnya makhluk yang berakal. Akal lah yang membuat manusia menjadi manusia. Dengan ciri khas otaknya maka manusia menyebut dirinya sebagai Homo Sapiens, manusia, si bijak. Ciri khas manusia adalah berpikir menggunakan akalnya. Otaknya yang plastis yang menjadikan diri manusia memiliki derajat yang tinggi, karena sesungguhnya tinggi rendahnya derajat makhluk ada pada stereotypy vs. plastisitas nya. Perubahan diri akan terus terjadi sebagai hasil dari berpikir dan input lingkungan. Maka berjuanglah dan pandai-pandailah dalam memilih lingkungan. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah SWT.