Rem Pilihan Manusia, Gas Karunia Allah

Oleh: Intan Sahara

Big power, big responsibility.

Daya yang besar berarti juga tanggungjawab yang besar. Daya dalam hal ini berarti kekuatan, kemampuan, kapabilitas, dan kapasitas. Seseorang yang memiliki daya yang besar, secara otomatis dituntut untuk memiliki tanggungjawab yang setara dengan daya yang dimilikinya. Seseorang dengan ilmu tinggi lebih memiliki kewajiban untuk mengajarkan ilmunya dibandingkan dengan orang yang belum berilmu. Seseorang dengan harta lebih memiliki kewajiban untuk membagi hartanya dan berbuat banyak dengan hartanya di jalan Allah. Seseorang dengan kesehatan dan tenaga yang kuat ditangungkan kewajiban atasnya untuk bekerja. Semakin seseorang berdaya, semakin berat juga tanggungjawabnya.

Daya juga bukan hanya persoalan kemampuan fisik dan kebendaan. Rohani atau jiwa pun memiliki daya. Kesabaran, ketaatan, ketahanan dalam menahan keinginan maksiat dalam dirinya, ketahanan menahan rasa marah, kemampuan memaafkan, kemampuan meminta maaf, kemampuan menyayangi manusia lain, dan kemampuan berempati serta masih banyak lagi. Daya inilah yang sering terlupakan oleh banyak orang. Orang lebih melihat daya sebagai sesuatu yang bersifat fisik dan kebendaan. Padahal daya jenis inilah yang pertamakali dapat menghantarkan manusia dalam menggapai daya yang bersifat kebendaan dan fisik. Daya rohanilah yang dapat menghantarkan manusia menggapai kesuksesan dunia dan akhirat.

Junjungan kita Muhammad rasulallah saw memiliki daya rohani yang amat dahsyat. Kesabarannya menembus langit. Kemampuannya memaafkan begitu luar biasa. Empatinya terhadap orang-orang lemah sangat mengagumkan. Ketahanannya menahan rasa marah bisa berganti dengan doa. Daya rohaninya yang kemudian memantaskan beliau mendapatkan sebutan yang tinggi di sisi Allah swt. Namanya wajib disebut setelah nama allah disebut dalam kalimat syahadat. Daya fisik dan kebendaannya pun mengikuti daya rohaninya yang luar biasa. Ilmu politik, peperangan, manajemen, pemasaran, ekonomi, strategi perang, etika, menjadi panutan dan mengalahkan ilmu-ilmu sekuler lainnya. Kejayaan Muhammad saw mengubah peradaban hanya memerlukan waktu selama 20 tahun dan hingga kini jejaknya masih menjadi panutan.

Sebelum menulis ini, saya memperhatikan jenis jenis kendaraan. Sepeda, motor, mobil, truk, sekaligus cc dan kecepatannya. Dua komponen dalam kendaraan itu yang kemudian menjadi perhatian utama saya adalah: Gas dan Rem. Semakin besar cc nya, maka semakin besar kekuatan kendaraan tersebut (gas) dan kekuatan remnya. Semakin besar gas nya, maka diperlukan rem yang semakin kuat. Apa yang terjadi jika sepeda ontel yang rem kecilnya kemudian diberi gas dengan spesifikasi truk? Kecelakaan. Tabrakan. Nyungsep. Ah ya bisa saja gas nya jangan kuat kuat. Jangan lupa, kecenderungan manusia itu sering lupa diri. Kendaraan yang ber cc besar memiliki frekuensi untuk membawa pengemudinya ugal ugalan. Kalau pengemudinya kuat mental? Manusia itu dinamika, takkan setiap saat dia kuat. Jadi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, si pencipta kendaraan biasanya memberi kekuatan gas dan rem yang seimbang.

Allah sang pencipta atas dasar kasih sayangNya memberikan karunia berupa gas dan rem yang sama pada seluruh manusia. Bukankah seluruh bayi yang lahir kedunia memiliki ketidakmampuan yang sama? Tapi Dia memberi perangkat yang sama agar manusia dapat berdaya secara fisik kebendaan dan daya secara rohani. “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan aneka hati, agar kamu bersyukur”(Q.S. An-Nahl: 78). Allah memberi manusia perangkat berupa pendengaran, penglihatan dan aneka hati untuk kemudian manusia mencari pengetahuan dengan modal perangkatnya itu. Pengetahuan sebagai hasil pencarian kemudian diolah dengan akal yang membuat manusia menjadi bijak. Kebijakannya itu berupa daya rohani. Daya rohani berupa kesabaran, menahan amarah, menahan hawa nafsu untuk berbuat pelanggaran, kemampuan memaafkan dan meminta maaf, berempati, menyayangi orang lain, kemampuan untuk tidak membalas dendam, menahan diri untuk tidak berbuat zalim, yang saya analogikan sebagai Rem.

Manusia lah yang diberi pilihan apakah modal perangkatnya berupa pendengaran, penglihatan dan hati digunakan untuk menggapai dan memperkuat daya rohaninya ataukah hanya untuk memenuhi hawa nafsu saja. Persoalan daya fisik dan kebendaan berupa ilmu, kekuasaan dan harta saya analogikan sebagai Gas. Gas inilah yang menjadi urusan Allah untuk memberi atau menahannya kepada manusia. Berdasarkan kasih sayangNya ia menahan atau memberi Gas itu agar manusia tidak celaka, tidak sembarangan, tidak terjerumus. Semuanya seimbang. Jika memang Rem kita sebagai manusia semakin hari semakin diperkuat karena menggapai ridhoNya, Insya Allah Gas yang semakin kuat pun akan dititipkan Allah Sang Maha Pencipta kepada kita. Tugas kita adalah memperkuat dan memperbesar daya rohani sebagai Rem untuk Gas yang juga kuat.

Pertanda seseorang belum memiliki rem yang cukup kuat adalah biasa mengeluh dalam menghadapi masalah yang kecil, menyelesaikan persoalan dengan makian dan kemarahan, tidak bisa menjaga amanah, mudah sekali membenci orang lain, belum cukup kuat untuk bersabar ketika dirinya dizalimi. Apalagi kalau rem nya blong, apakah Allah yang Maha Penyayang cukup tega memberi Gas yang kuat pada seseorang dengan Rem yang lemah?

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s