Jangan Putus Asa: Plastisitas Otak

Oleh: Intan Sahara, M.Si

Dua minggu lalu saya menulis mengenai apakah homoseksualitas itu bawaan, hasil dari kerja genetika atau merupakan suatu pilihan sadar dari kesempatan. Runtuhnya teori gen gay telah mengubah pandangan saya-mungkin juga pandangan sebagian orang yang telah paham-bahwa homoseksualitas merupakan pilihan sadar, by chance, dan bubrain gymkanlah suatu takdir seseorang menjadi gay. Sampai saat ini saya memiliki keyakinan bahwa jika manusia berjuang dan benar-benar ingin kembali kepada fitrahnya insya allah selalu ada jalan, Allah SWT berpesan agar kita jangan pernah berputus asa untuk kembali ke jalan yang lurus.

Banyak sekali pandangan yang ada pada sebagian orang yang menentang kebenaran, menentang fitrah, melakukan suatu kesalahan bahwa apa yang dilakukannya dalah suatu takdir. Apakah seseorang diciptakan untuk menjadi pembunuh? Apakah seseorang diciptakan untuk menjadi perempuan nakal di lokalisasi Dolly? Apakah seseorang diciptakan untuk menjadi preman?atau seseorang yang suka celetak celetuk tak bermanfaat itu sudah bawaan orok?

Mengkaji manusia dan perilakunya sangat menarik dan sekaligus sangat kompleks karena manusia itu unik dan paradoksal. Manusia disebut makhluk paradoksal karena sebagai pribadi ia merupakan kesatuan jiwa dan raga. Raga, tunduk pada hukum-hukum materi serta dibatasi oleh ruang dan waktu. Sedangkan jiwa tidak tunduk pada hukum-hukum materi dan tidak dibatasi ruang dan waktu.

Pada bidang kedokteran jiwa manusia itu letaknya di benda bulat dengan konsistensi lunak bernama otak. Pada neuropiskologi perkembangan perilaku manusia didasarkan atas fungsi otak. Otaklah yang mengatur dan menggerakkan apapun yang kita lakukan dan kita rasakan. Setiap perilaku, baik pikiran, perasaan ataupun tindakan manusia berawal dari otak.  Aktivitas mental kita terjadi di otak dan otak bertindak sebagai pusat komando pengendalian perilaku. Otak dan perilaku saling terkait, keduanya dangat kompleks, dan secara evolusioner keduanya berjalan bersama-sama. Otak yang menerima stimulasi dan mengembangkan kemampuan manusia melalui sel-sel otak, neuron dan sinapsisnya. Otak memiliki 100 miliar neuron – 5 triliun neuralgia. Setiap neuron membentuk sampai 200 ribu sambungan ke neuron lainnya yang beisi informasi dari aktivitas yang dilakukan manusia.

Perilaku itu sendiri secara populer berarti berbuat sesuatu (doing things). Perilaku berbuat sesuatu tidak mengharuskan adanya gerakan karena berdiam diri saja sudah termasuk ke dalam perilaku. Hess pada tahun 1930an telah membuktikan bahwa terdapat beberapa pusat di dalam otak yang sangat terkait dengan perilaku seperti “pusat lapar”, “pusat seks”, “pusat agresi”, dan lain lain. Perilaku juga melibatkan semua mekanisme internal seperti proses kognitif dan motivasi, pengalaman belajar dan ingatan. Semua mekanisme internal itu bergantung pada sistem saraf yang sedang berkembang baik. Senang, puas, marah, kasih sayang, takut, sedih merupakan jenis perilaku yang dipengaruhi dan diarahkan oleh perasaan umum.

Perasaan umum atau pusat emosi pun terdapat di dalam otak yaitu di amygdala. amygdala sebagai sumber impuls emosi, gudang emosi. Emosi sangat penting bagi rasionalitas. Goleman (1995) mengungkapkan bahwa dalam liku-liku perasaan dengan pikiran, kemampuan emosional membimbing keputusan individu dari waktu ke waktu saling membahu dengan pikiran rasional mendayagunakan atau tidak mendayagunakan pikiran itu sendiri. Amygdala inilah yang mampu menjelaskan mengapa emosi bisa mengalahkan rasio. Amygdala mampu mengambil alih kendali tindakan, sewaktu otak masih menyusun keputusan. Kemungkinan ‘pembajakan’ emosi ini lebih besar terjadi pada orang yang memiliki kecerdasan emosi rendah.

Begitulah sekilas tentang kaitan otak dengan perilaku dan perasaan manusia.Semua perubahan besar dalam struktur saraf ini paralel dengan perubahan macam kompleksitas perilaku. Makin kompleks sistem saraf maka makin kompleks pula perilaku yang ditampilkan. Belahan-belahan atau pusat di dalam otak yang memiliki peranan masing-masing dalam seluruh jenis perilaku dan emosi manusia. Sirkuit penentu dalam otak yang dibangun dari sejak manusia dilahirkan terus berkembang dan menjadi karakteristik manusia itu sendiri. Mengapa ada manusia yang cenderung tenang, panik, pemarah, pendiam, periang, dan lain lain. Maupun ada manusia yang perilaku menyimpang, agresif, tidak bisa mengendalikan nafsu seksualnya, licik, dan berbagai perilaku kriminal lain.

Penelitian awal percaya bahwa neurogenesis atau penciptaan neuron pada otak berhenti segera setelah manusia dilahirkan ataupun perubahan pada otak hanya terjadi selama masa kanak-kanak. Pada dewasa awal dipercaya bahwa struktur fisik otak telah menjadi sesuatu yang permanen. Namun saat ini otak dipahami sebagai sesuatu yang memiliki kapasitas dan kompleksitas luar biasa. Otak mampu menyusun kembali jalur-jalurnya, sambungan-sambungannya dengan menciptakan koneksi baru dan bahkan menciptakan neuron baru. Penelitian modern membuktikan bahwa otak terus membangun jalur neural baru dan mengubah jalur yang telah ada sebagai hasil adaptasi pada pengalaman baru, mempelajari informasi baru dan menciptakan memori baru.

Kemampuan otak untuk berubah dan beradaptasi sebagai hasil dari pengalaman atau dikenal sebagai neuroplastisitas atau plastisitas otak (brain plasticity). Plastisitas otak juga berarti kemampuan otak berubah secara fisik, fungsi dan kimiawi-sepanjang hidup manusia. Plastisitas otak berlaku sepanjang hidup, bukan hanya pada masa kanak-kanak, bervariasi berdasarkan usia dan selama masa hidup spesifik. Plastisitas otak ini berkelanjutan sepanjang hidup dan melibatkan sel-sel otak daripada neuron. Lingkungan pun memainkan peran utama dalam proses plastisitas otak. Plastisitas otak melingkupi fungsi, struktur dan kimiawi otak. Secara fungsi berarti kemampuan otak untuk berubah secara fungsi dari area yang rusak ke area yang tidak rusak. Secara struktur berarti kemampuan otak untuk benar-benar mengubah struktur fisiknya sebagai hasil dari pengalaman atau belajar. Plastisitas otak bekerja mengacu pada perubahan sebagai hasil dari input lingkungan.

Konsep yang sederhana. Otak berubah secara fungsi, fisik dan kimiawi sebagaimana kita memperoleh kemampuan baru atau mengembangkan kemampuan. Ini artinya berbagai perilaku manusia turut berkembang, mengalami perubahan atau bahkan terhenti dan mengalami kemunduran seiring dengan perubahan otak yang terus terjadi. Implikasi dari perubahan atau plastisnya otak pada perilaku adalah bahwasannya manusia dapat menentukan perilaku apa yang ingin dia ubah dari dirinya. Perilaku apa yang ingin dikurangi. Tentunya hal ini memerlukan kesadaran atau bahasa saya adalah meng “install” nya dalam pikiran rasional. Kesadaran didapatkan melalui informasi, pengetahuan, muhasabah diri, dan nasihat atau bimbingan.

Tidak ada manusia yang terlahir jahat dan menyimpang. Hanya saja diperlukan kesadaran tinggi akan dirinya. Kesadaran ini adalah hasil dari berpikir. Berpikirnya makhluk yang berakal. Akal lah yang membuat manusia menjadi manusia. Dengan ciri khas otaknya maka manusia menyebut dirinya sebagai Homo Sapiens, manusia, si bijak. Ciri khas manusia adalah berpikir menggunakan akalnya. Otaknya yang plastis yang menjadikan diri manusia memiliki derajat yang tinggi, karena sesungguhnya tinggi rendahnya derajat makhluk ada pada stereotypy vs. plastisitas nya. Perubahan diri akan terus terjadi sebagai hasil dari berpikir dan input lingkungan. Maka berjuanglah dan pandai-pandailah dalam memilih lingkungan. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah SWT.

Advertisement

Homoseksualitas: Bawaan atau Kesempatan ?

Intan Sahara (Dir. Konseling dan Konsultan Family Center Askaf Foundation, Social Working)

Kaum LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual dan Transgender) terus mgay-teens-timeenunjukkan eksistensi mereka dan berjuang agar keberadaannya diakui secara hukum. Bahkan tokoh gay yang pernah berupaya menjadi anggota Komnas HAM bercita cita mendirikan partai politik yang anggotanya adalah kaum lesbi, gay, biseksual, dan transgender. Meskipun bagi masyarakan umum LGBT adalah suatu diluar nalar fitrah, namun kaum LGBT tidak lagi merasa bahwa perilakunya itu menyimpang. Bahkan Tokoh Gay di Indonesia menginginkan agar kaum gay dapat melakukan pernikahan yang sah di muka umum.

Salah satu legitimasi yang dibawa para aktivis LGBT itu adalah teori gen-gay. Teori ini menyatakan bahwa terdapat gen yang berperan menjadikan seseorang homoseksual. Gen tersebut dinamakan gay-gene. Ini artinya homoseksualitas adalah suatu bawaan. Teori ini muncul pertama kali pada tahun 1899 oleh ilmuwan Magnus Hirscheld. Disusul pada tahun 1993, gen-gay dimunculkan kembali gaungnya oleh seorang peneliti yang juga gay, Dean Hamer. Dia menyatakan bahwa gen homoseksualitas diturunkan oleh ibu sebagai gen pembawa atau karier. Ini berarti karena homoseksual merupakan bawaan (inborn) yang ditentukan oleh genetika atau homoseksual BUKAN lah suatu disorder atau kelainan. Pemberian terapi hanya akan menyakiti perasaan individu dengan homoseksualitas. Dikatakan bahwa homoseksual hanya merupakan variasi populasi manusia. Teori tersebut juga mengklaim bahwa homosksualitas tidak dapat diubah karena merupakan suatu bawaan genetika.

Teori gen gay itulah yang digunakan aktivis LGBT untuk melegitimasi penyimpangan perilaku SSA (Same sex attraction). Tapi benarkah homoseksual merupakan suatu bawaan, takdir, ketentuanNya ? Atau teori gen gay itu merupakan suatu propaganda busuk yang menjerumuskan? Bagaimana Islam memandang homoseksualitas?

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.”(QS. Al-A’raf [7]: 80-81).

Homoseksual dalam pandangan Islam berarti telah melanggar ketentuanNya dan fitrah manusia normal. Homoseksualitas adalah perbuatan yang melampaui batas. Meskipun teori gen gay menyatakan keterlibatan genetika atau artinya homoseksual dipandanng sebagai fitrah, namun peneliti Dean Hamer TERNYATA tidak menemukan gen pembawa sifat homoseksual. Ia sendiri yang menyatakan risetnya tak mendukung homoseksualitas adalah suatu bawaan. Dengan demikian runtuhlah teori gen gay yang ia pernah gagas. Homoseksualitas tidak dikendalikan gen, bukan faktor bawaan, dan berarti homoseksualitas merupakan suatu penyimpangan perilaku.

Terdapat teori lain yang mneguatkan keruntuhan teori gen gay. Neil Whitehead mengemukakan banyak bukti dalam penelitiannya bahwa homoseksualitas adalah orientasi seksual oleh kesempatan. Neil menyatakan bahwa sebagaimana perilaku seksual lainnya (gaya bercinta, dls), orientasi seksual juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan budaya. Kekaguman pada suatu budaya termasuk budaya homoseksual mempengaruhi preferensi seksual individu. Seorang gay juga secara tidak sadar mempersepsi kejadian-kejadian di masa kecil menjadikannya homoseksual. ini juga meruntuhkan anggpan bahwa menjadi gay merupakan suatu pilihan sadar.

Jika memang homoseksualitas bukan suatu bawaan genetika dan merupakan suatu penyimpangan perilaku, pertanyannya apakah kaum homoseksual ingin kembali dan berjuang kepada fitrahnya?

Katakanlah:”Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Az-Zumar/39:53)

Baca selanjutnya: Perubahan Diri karena Plastisitas Otak.

 

 

terbuka jalan baginya agar kaum gay, homoseksual dan transgender bisa diakui eksistensinya sebagai manusia dan dihormati hak asasinya sebagai manusia. Dan tidak ada halangan bagi kaum gay untuk melakukan perkawinannya secara sah di muka hukum dan mengumumkan secara terbuka statusnya sebagai homoseksual atau transgender. – See more at: http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2012/09/14/20633/tokoh-gay-dede-oetomo-ingin-legalkan-kawin-sejenis/#sthash.bEWHu14o.dpuf
terbuka jalan baginya agar kaum gay, homoseksual dan transgender bisa diakui eksistensinya sebagai manusia dan dihormati hak asasinya sebagai manusia. Dan tidak ada halangan bagi kaum gay untuk melakukan perkawinannya secara sah di muka hukum dan mengumumkan secara terbuka statusnya sebagai homoseksual atau transgender. – See more at: http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2012/09/14/20633/tokoh-gay-dede-oetomo-ingin-legalkan-kawin-sejenis/#sthash.bEWHu14o.dpuf

Inferiority Complex Syndrome Sebagai Salah Satu Penyebab Penyakit Sosial

Oleh : Intan Sahara

Hampir setiap orang pasti pernah merasa inferior (rendah). Manifestasi dari inferior dalam kehidupan sehari hari kita kenal dengan sebutan minder. Minder berawal dari penilaian diri yang buruk. Individu merasa tidak kompeten, tidak mampu, rendah, hina, tidak berguna, dan berbagai perasaan negatif tentang dirinya sendiri. Perasaan minder tersebut muncul karena individu yang mengalami inferioritas merasa atau betul-betul mempunyai kekurangan pada fisik ataupun psikisnya. Terkadang rasa inferior tanpa disadari dipupuk oleh individu  dengan terlalu sering membandingkan kekurangan diri sendiri dengan kelebihan orang lain. Adapun gejala inferioritas yang paling umum, diantaranya :

  • Perilaku mencari perhatian. Dengan berbagai cara, subjek inferior secara terus menerus berusaha mendapatkan perhatian.
  • Dominasi, yaitu jika seseorang berbuat seolah-olah berkuasa atas sesuatu yang sebenarnya justru menyebabkan dirinya merasa minder.
  • Eksklusif, yaitu perilaku tidak terlibat dalam aktifitas sosial dan lebih suka menyendiri akibat banyak kekurangan.
  • Kompensasi, jika seseorang menyembunyikan perasaan inferiornya dengan mengembangkan diri, sehingga akhirnya mendatangkan respek dan perhatian dari orang lain.
  • Kritis, yaitu jika seseorang memiliki kebiasaan mengkritik orang lain dalam upaya menciptakan dan memelihara citra bahwa dirinya lebih mampu dari orang lain.

Terdapat tiga aspek yang menyebabkan rasa inferior pada individu. Aspek tersebut sebagai berikut :

  1. Aspek fisik
  2. Aspek ekonomi
  3. Aspek kemampuan Intelektual

Inferior dapat menjangkiti siapa saja dari kalangan manapun. Jika rasa itu dikembangkan dan melahirkan tujuan-tujuan superior guna mengkompensasi rasa inferioritasnya, maka itu bukan lagi suatu hal yang wajar melainkan sudah menjadi bentuk kelainan yang disebut inferiority complex syndrome. Inferiority complex syndrome membuat individu memandang dirinya rendah, membenci dirinya sendiri, terasing dari lingkungannya, dan sangat mengganggu aktivitas kehidupannya. Dengan merujuk pada teori psikologi individual tentang perasaan inferioritas, Alfred Adler, setiap individu mempunyai kapasitas  untuk mempromosikan perasaan inferioritas pada orang lain. Bentuk promosi perasaan inferioritasnya itu dapat bersifat negatif ataupun positif. Bentuk promosi negatif dari manifestasi inferiority complex syndrome adalah penyakit sosial.

Penyakit sosial adalah bentuk perilaku yang dilakukan oleh seseorang yang tidak sesuai norma dan nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Tolak ukurnya bukan baik atau buruk, benar atau salah tetapi berdasarkan ukuran norma dan nilai sosisal dalam masyarakat. Penyakit sosial tersebut dibagi kedalam dua bentuk penyimpangan yaitu individu dan kelompok. Beberapa penyakit sosial yang lahir dari perilaku individu yang mengalami inferiority complex syndrome :

  • Perilaku bullying
  • Perkosaan
  • Bunuh diri

Perasaan inferior dan kompensasi pertamakali dipelajari oleh Alfred Adler pada kecacatan jasmani dan kompensasi. Menurut Alfred Adler dalam bukunya Study of Organ Inferiority and Its Physical Compensation (1907), mendeskripsikannya sebagai  proses dari kompensasi atas ketidakmampuan atau keterbatasan fisik seseorang. Tergantung pada sikap yang diambil atas kekurangan fisiknya, kompensasi atas ketidakmampuan atau keterbatasan tersebut bisa saja memuaskan atau tidak. Dari studinya pada kecacatan jasmani dan kompensasinya, Adler mulai melihat bahwa setiap individu sebagai seseorang yang memiliki perasaan inferior. Setiap individu memiliki perasaan inferior baik itu dia sadari ataupun tidak. Inferioritas merupakan perasaan yang muncul akibat adanya kekurangan psikologis atau sosial yang dirasakan secara subjektif maupun akibat kelemahan atau cacat yang nyata.

Individu memiliki kekuatan perjuangan yang dibawa sejak lahir. Terdapat perasaan inferior untuk dapat diatasi oleh individu dan untuk mencapai tingkat perkembangan yang lebih tinggi dalam hidupnya. Proses inferioritas sudah ada sejak bayi. Kelemahan fisik akan melahirkan rasa ketergantungan yang sangat terhadap orang dewasa. Bayi yang lemah secara fisik menyadari akan perasaan yang tidak berdaya tersebut untuk menentang kekuatannya. Menurut Adler, Bayi atau anak mengembangkan perasaan inferioritas yang lebih kuat.

Sisi inferioritas Inferioritas menurut Adler bukan ditentukan oleh faktor genetik tetapi lebih kepada fungsi lingkungan dimana anak tidak berdaya dan cenderung tergantung pada orang dewasa. Inferioritas mutlak dan yang lebih penting adalah dibutuhkan. Inferioritas membuat orang menjadi termotivasi untuk berusaha, untuk maju, untuk terus menjadi lebih baik lagi dan untuk sukses. Gerakan untuk maju dan meningkat merupakan hasil dari usaha kompensasi inferiority feeling.

Penyebab inferiority complex berawal dari anak dengan dua perlakuan berbeda, yaitu anak yang dimanjakan (spoiling child) dan anak yang ditolak (Neglected child). Kedua perlakuan ekstrim tersebut berpotensi melahirkan perasaan inferiority complex. Anak yang dimanjakan oleh kedua orangtua ataupun lingkunganakan merasa sebagai pusat perhatian dan ia menyadari bahwa hampir semua keinginannya akan dikabulkan lingkungan. Dari kondisi pengasuhan seperti itu, ia membangun sebuah ide bahwasannya ia adalah orang yang paling penting (the most important person). ketika keyakinan terbangunnya itu dihadapkan pada kenyataan saat memasuki dunia sekolah, anak tersebut akan merasa shock. Lingkungan rumah yang membuainya dengan kemanjaan sangat bertolak belakang dengan dunia sekolah. Hal tersebut dapat membuat anak mengembangkan perasaan inferiornya.

Inferiority pada perkembangan anak yang ditolak (Neglected child) berawal dari keadaan anak yang dirinya tidak diinginkan, ditolak, dan perlakuan berbeda dari orangtuanya. Kondisi itu melahirkan sebuah perasaan ditolak lingkungan dan tidak diinginkan. Anak menjadi    kekurangan cinta dan kasih sayang dan menemukan dirinya merasa tidak aman dan nyaman dengan lingkungan. Dari situ anak mengembangkan perasaan tidak berharga, marah, dan tidak percaya pada lingkungan. Hal itu berpotensi sebagai media berkembangnya perasaan inferior yang dapat menjadi inferiority complex.

Inferiority complex terjadi jika individu tidak mampu mengkompensasi inferioritasnya. Menurut Adler, untuk menjadi manusia, berarti merasakan dirinya inferior. Jadi dia memandang bahwa inferioritas merupakan sesuatu yang vital sebagai penentu tingkah laku dan bukan merupakan suatu abnormalitas. Bahkan inferior dapat menjadi sesuatu yang mendorong individu agar mau belajar dan berusaha lebih baik lagi. Akan tetapi individu yang jiwanya tidak sehat akan mengembangkan perasaan inferiornya menjadi berkembang dan melahirkan tujuan sebagai superior personal.

Perasaan inferior itu diolah oleh individu dan dapat melahirkan sikap atau keputusan yang berbeda atas hal itu. Individu yang memiliki perasaan tak lengkap (inferior) yang normal akan mengkompensasi hal itu pada minat sosial. Minat sosial tersebut dijadikan landasan untuk berjuang mencapai tujuan final sehingga sukses dapat dipersepsi dengan jelas. Sebaliknya pada individu yang mengembangkan inferiotitasnya, tujuan final dipersepsi kabur, karena individu tersebut berjuang agar menjadi superior. Hal yang dilakukannya adalah menggapai keuntungan pribadi yang melahirkan superioritas pribadi pula. (Bersambung..)

Gambar

Menjadi Tuan Bagi Pikiran Sendiri

Oleh : Intan Sahara (Dir. Konseling dan Konsultan Askaf Family Center, Askaf Foundation, Social Working)

Manusia merupakan salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki elemen berbeda dari makhluk lainnya. Elemen-elemen tersebut adalah tubuh, hati, dan pikiran. Pikiran yang menggerakkan segala perilaku manusia. Tuhan memberikan satu kebebasan kepada manusia, yakni kebebasan untuk berpikir dan berkehendak.

Dalam terminologi psikologi, pikiran diatur oleh sebuah mekanisme atau proses yang disebut kognitif. Dari proses itulah dihasilkan keputusan-keputusan untuk mengendalikan apa yang kita lakukan dan apa yang tidak seharusnya kita lakukan.

Pikiran akan menjadi suatu hal yang nyata dalam kehidupan ini. Pikiran menghasilkan aksi dan aksi menghasilkan reaksi. Pikiran seumpama akar sedangkan sesuatu yang dihasilkan pikiran seumpama buah dan bunga dari pohon kehidupan. Kebahagiaan, ketidakbahagiaan, sukses dan kegagalan,mood dan apa yang dirasakan merupakan buah dan bunga dari bibit yang dibentuk dalam pikiran kita.  Dalam suatu kata-kata bijaksana dari Siddharta Gautama :  “ All that we are is the result of what we have thought.”

Namun sering kita terjebak pada suatu kondisi dimana kita tidak dapat mengatur diri sendiri.  Mengatur diri sendiri berarti mengendalikan pikiran. Bagi banyak orang, terasa begitu sulit untuk dapat mengatur dirinya dan kehidupannya. Secara kontras sebagian orang dapat mengendalikan pikirannya, sehingga ia dapat dengan mudah meraih impian, menghindari hal hal yang tidak bermanfaat dan memberikan pengaruh pada orang lain.

Terdapat dua ide bagi fenomena psikologi pikiran :

  1. Kita cenderung tidak mengamati penyebab yang tidak terlihat melainkan pada efek atau akibat.
  2. Penyebab seringkali merupakan sesuatu yang tersembunyi atau tidak tampak, tetapi tidak dapat dipisahkan dari seluruh efek/akibat yang dihasilkan pada dunia fenomenal.

Manifestasi dari fenomena tersebut dalam kehidupan sehari hari adalah misalnya saat  Anda ingin berhenti merokok. Saat keinginan untuk berhenti merokok mulai dilaksanakan, maka secara tidak sadar Anda berpikir untuk tidak memikirkan tentang rokok atau keinginan untuk merokok serta mengatakan pada diri Anda : “Saya tidak akan merokok lagi”.  Sebaliknya, Anda mendapatkan diri Anda terus menerus memikirkan rokok, pikiran tentang rokok memenuhi isi kepala dan keinginan untuk merokok semakin kuat.

Hal yang sama terjadi pada seseorang yang melakukan diet dengan mengurangi asupan makanan tertentu. Misalnya mengurangi cemilan. Dengan berpikir menghindari cemilan, tidak akan ngemil lagi,   justru akan membuat seseorang semakin berpikir mengenai cemilan dan tubuh akan meresponnya dengan dorongan untuk ngemil.

Demikian juga keinginan  untuk merubah perilaku yang kurang baik terkadang tanpa sadar dilakukan dengan cara yang justru malah mempertinggi kemunculan perilaku kurang baik tersebut. Seperti saat seseorang mengatakan pada dirinya sendiri ‘jangan malas lagi’, ‘jangan terlambat lagi’.

Bukan hanya saat bermaksud untuk menghentikan kebiasaan, keinginan akan sesuatu, akan tetapi juga pada pikiran-pikiran yang tidak diinginkan. Terkadang pikiran menakutkan yang tidak diinginkan muncul bisa dikarenakan seseorang memiliki kenangan buruk atau trauma terhadap suatu peristiwa kehidupan sehingga sedikit banyak mempengaruhi kualitas kehidupannya.  Sudah menjadi insting otomatis bagi seseorang untuk menghilangkan pikiran itu dari kepala  atau bahkan berpura pura bahwa  pikiran itu tidak ada, akan tetapi yang terjadi justru pikiran itu semakin menghantui.

Fenomena di atas disebabkan oleh suatu proses kognitif yang dikenal dengan istilah thought suppression. Thought suppression adalah upaya yang dilakukan secara sadar guna menghilangkan dengan paksa informasi-informasi yang tidak diinginkan yang muncul dipikiran atau kesadaran seseorang.  Hal itu menjadi sesuatu yang tidak dapat tertahankan untuk menekan suatu pikiran yang muncul, yang membuat tidak nyaman, dan melihatnya sebagai suatu ekspresi yang mengancam dari diri seseorang. Hal tersebulah yang membuat Freud fokus pada sifat dasar dari alam pikiran yang dimunculkan ke kesadaran. Sebelum lebih lanjut mengenai thought suppression, mari kita pahami istilah dibawah ini.

Brain teaser : selama dua menit kedepan, pikirkan apapun yang ingin Anda pikirkan, kecuali berpikir tentang gajah berwarna merah. Pikirkanlah apapun yang ingin Anda pikirkan, tetapi jangan memikirkan gajah berwarna merah. Tentu saja yang muncul di mental imagery Anda adalah seekor atau lebih gajah berwarna merah, setelah diinstruksikan untuk melakukan suppressing pada pikiran itu. Wegner adalah peneliti pertama yang meneliti tentang hal itu dan dikenal dengan istilah “white bear” (Wegner 1987). Penelitian tersebut telah membuktikan bahwa terdapat sifat dasar yang paradoks atau berlawanan dari proses thought suppression ; yang merupakan sebab dari kembalinya pikiran-pikiran yang tidak diinginkan ; fenomena dimana mereka menyebutnya dengan rebound effect. (Wegner, Schneider, Carter, & White, 1987)

Mekanisme rebound effect yang menyebabkan hal yang kita inginkan justru terjadi sebaliknya. Apa yang kita katakan pada diri kita disaat menginginkan untuk keluar dari suatu keadaan seringkali menjadi “instruksi” untuk melakukan suppression yang kemudian menjadi alarm atau pengingat dari suatu pikiran yang tidak diinginkan. Instruksi tersebut seolah-olah menjadi isyarat atau perintah bagi orang untuk memikirkan sesuatu lebih dari yang mereka biasanya lakukan. Terdapat pengaruh yang kuat dari suppression tersebut pada keadaan intrapersonal (misalnya emosional dan kognitif) dan proses interpersonal (misalnya prasangka) serta hubungan thought suppression pada psikopatologi.

Jika thought suppression merupakan proses yang sempurna, idealnya pikiran yang di suppressed tersebut akan hilang, akan tetapi  studi  yang dilakukan para ahli telah membuktikan bahwa proses thought suppression merupakan proses yang tidak sempurna.

Dengan mengetahui mekanisme pada pikiran membuat seseorang lebih mudah untuk dapat mengendalikan pikirannya sendiri, yang tentunya akan berimplikasi pada banyak hal dalam kualitas kehidupan. Para ahli telah banyak meneliti hal yang terkait pikiran yang merupakan variabel konstruk, sehingga kita tidak perlu membedah otak secara fisik hanya untuk mengubah apa yang ada dalam pikiran.

Terdapat cara atau teknik untuk ‘menetralisir’ pikiran yang tidak diinginkan, mengubah pikiran buruk, mengubah kebiasaan buruk seperti merokok, ataupun sukses menjalankan diet antara lain :

Positive Self Talk

Cara yang pertama adalah dengan memanfaatkan self talk yang ada pada diri setiap orang. Self talk adalah bicara pada diri sendiri. Pembicaraan pribadi itulah yang oleh sebagian orang disebut dengan kegiatan berpikir atau itulah pikiran Anda. Berdasarkan prinsip bahwa apa yang orang katakan pada dirinya sendiri mempengaruhi perilaku mereka (Ellis, 1976), maka self talk adalah sesuatu yang menentukan akan menjadi seperti apa diri Anda. Self talk telah lama digunakan dalam modifikasi perilaku kognitif (Meichenbaum, 1977).  Self talk mempengaruhi mood dan emosi yang pada akhirnya mempengaruhi perilaku seseorang. Bagan dibawah ini menggambarkan bagaimana self talk bekerja :

 Gambar

 

Bagan Oleh Intan Sahara

Self talk bekerja dengan mempengaruhi tindakan kita. Tindakan tersebut lama lama menjadi suatu kebiasaan dan kebiasaan menjadi karakter.

Dengan mengetahui bagaimana self talk bekerja, maka kita dapat memahami bahwa selftalk  menjadi faktor penentu yang dapat membantu kita untuk mengubah kebiasaan buruk dan perilaku yang tidak diinginkan. Kunci untuk memanfaatkan selftalk adalah dengan menyadari atau mengenali apa yang kita katakan pada diri sendiri, dengan itu kita dapat mengendalikan selftalk tersebut. Selanjutnya, mulailah dengan menciptakan pembicaraan yang positif dengan diri Anda. Fokus pada pikiran-pikiran positif. Bicara pada diri Anda sendiri menggunakan kata-kata positif dan membangun. Kata-kata positif dan membangun tersebut ialah dengan menghindari kata “tidak” dan  “jangan”.  Mengapa? Karena jika Anda menggunakan bentuk kata negatif seperti “tidak” atau “jangan”, itu berarti Anda sedang melakukan suppression pada pikiran Anda sendiri yang akan mengakibatkan mekanisme rebound effect terjadi. Untuk lebih jelasnya, causal loop diagram berikut ini menggambarkan bagaimana jika Anda menggunakan positive self talk dan negative selftalk dengan menggunakan kata “tidak” atau “jangan”.

 Gambar
 Bagan Oleh: Intan Sahara

Seperti ketika Anda ingin berdiet dengan berhenti ngemil, katakan pada diri Anda bahwa Anda mulai hari ini menjalani gaya hidup sehat dan hanya akan memakan makanan yang sehat seperti sayur dan buah. Jangan sekali-kali Anda mengatakan “saya tidak akan ngemil lagi, saya tidak akan memakan makanan berlemak lagi, dan jangan sampai saya menyentuhnya”.

Selain menggunakan kata-kata positif dalam self talk, gunakan juga kalimat yang spesifik mengenai apa yang Anda ingin capai atau ubah, dengan melibatkan emosi dan keinginan kuat.

Change our attitude toward the unwanted thought

Langkah pertama memastikan bahwa Anda hanya menerima pikiran-pikiran positif pada diri Anda. Namun jika pikiran negatif terlanjur dibiarkan merasuki pikiran, tindakan suppression hanya akan bersifat destruktif.  Apa yang harus dilakukan agar seseorang terhindar dari tindakan suppression pada pikiran? Hal itu penting karena seringkali tidak disadari bahwa kita ternyata melakukan suppression terhadap pikiran.

Ide dasarnya adalah bahwa pikiran yang menetap pada diri seseorang awalnya karena ia memberikan perhatian pada pikiran tersebut kemudian tenggelam kedalam suatu reaksi emosional. Reaksi emosi merupakan sumber energi bagi suatu pikiran yang ada, baik itu reaksi emosi positif ataupun negatif. Sekali Anda memiliki reaksi emosional pada pikiran tertentu, Anda akan terjebak kedalamnya, pikiran tersebut akan menetap, sampai reaksi emosi tersebut terselesaikan. Reaksi emosi yang terselesaikan berarti juga hilangnya sumber energi bagi pikiran tersebut. Seperti ketika Anda mendapatkan pujian dari seorang kawan,  seringkali secara tidak sengaja Anda mengingat pujian dan perasaan yang dirasakan saat itu. Hal itu meningkatkan tingkat kepercayaan diri dan mood Anda setiap kali mengingatnya. Sayangnya kita cenderung lebih fokus pada hal negatif daripada hal positif.  Jika seorang kawan menghina lalu Anda merasa kesal, hampir dapat dipastikan Anda memiliki reaksi emosional yang lebih kuat dan cukup lama pada hal tersebut.  Hal ini dapat menjelaskan proses traumatis pada seseorang akibat mengalami kejadian yang kurang menyenangkan.

Oleh Karena itu perlu adanya perubahan dalam sikap kita. Dengan merubah sikap berarti seseorang telah merubah bagaimana ia bereaksi terhadap pikiran tersebut. Perubahan dalam sikap akan dengan cepat mengilangkan reaksi emosional yang dimiliki terhadap suatu pikiran yang ada. Ketika reaksi emosional telah dikurangi secara signifikan, pikiran yang tidak diinginkan pun akan hilang. Menghilangkan pikiran yang tidak diinginkan, berarti merubah tindakan dan kebiasaan kita.

Triknya adalah bukan bagaimana berupaya untuk membebaskan diri dari suatu pikiran, melainkan pada bagaimana kita memiliki reaksi baru terhadap pikiran itu. Kita tidak dapat mengendalikan apa yang datang pada pikiran kita, akan tetapi kita dapat mengendalikan bagaimana kita bereaksi dan bersikap terhadapnya. Kita perlu menghadapinya, menerimanya dan memutuskan bahwa pikiran yang tidak diinginkan tidak perlu diperhatikan sehingga kita tidak meresponnya secara emosional. Oleh karena itu, kita harus dapat menerima dan merasa nyaman dengan apapun yang datang pada pikiran kita, jangan bersembunyi darinya atau mencoba untuk menghilangkannya.

Dua trik yang dipaparkan diatas merupakan cara atau teknik yang dapat membantu Anda agar dapat memahami keadaan dan mekanisme pikiran Anda, sehingga dapat menjadi tuan di pikiran Anda sendiri.

References

  1. Leonard F. Koziol, Debrah Ely Budding, Dana Chidekel . (2011). From Movement to Thought: Executive Function, Embodied Cognition, and The Cerebellum. USA : pringer Science+Business Media, LLC.
  2. Swami Paramananda. (1923). The Message of The East: Psychology of Thought. Gann Study Group. Vedanta Monthly.
  3. Richard M. Wenzlaff, Daniel M. Wegner. (2000). Thought Suppression. Annual Review Psychology, 51:59-91.
  4. Daniel G. Amen, MD.(1998). Change Your Brain Change Your Life. Times Book.
  5. Bowen S., Witkiewitz K., Dillworth T.M., Chawla N. Simpson T.L., Ostafin B.D., et al. (2006). The Role of Thought Suppression in The Relationship Between Mindfulness Meditation and Alcohol Use. Journal Psychology of Addictive Behaviours.
  6. Hooper, N., et al., (2011) Comparing thought suppression and acceptance as coping techniques for food cravings. Journal of Eating Behaviors, doi :10.1016/j.eatbeh.2011.10.002
  7. Kaori Araki, Joseph K. Mintah, et al. (2006), Belief in Self talk and Dynamic Balance Performance. Journal of Sport Psychology.
  8. A. Hatzigeorgiadis, et al. (2008). Mechanisms underlying the self-talk–performance relationship: The effects of motivational self-talk on self-confidence and anxiety. Journal of Psychology Sport and exercise, 10, 186 – 192.