Jangan Putus Asa: Plastisitas Otak

Oleh: Intan Sahara, M.Si

Dua minggu lalu saya menulis mengenai apakah homoseksualitas itu bawaan, hasil dari kerja genetika atau merupakan suatu pilihan sadar dari kesempatan. Runtuhnya teori gen gay telah mengubah pandangan saya-mungkin juga pandangan sebagian orang yang telah paham-bahwa homoseksualitas merupakan pilihan sadar, by chance, dan bubrain gymkanlah suatu takdir seseorang menjadi gay. Sampai saat ini saya memiliki keyakinan bahwa jika manusia berjuang dan benar-benar ingin kembali kepada fitrahnya insya allah selalu ada jalan, Allah SWT berpesan agar kita jangan pernah berputus asa untuk kembali ke jalan yang lurus.

Banyak sekali pandangan yang ada pada sebagian orang yang menentang kebenaran, menentang fitrah, melakukan suatu kesalahan bahwa apa yang dilakukannya dalah suatu takdir. Apakah seseorang diciptakan untuk menjadi pembunuh? Apakah seseorang diciptakan untuk menjadi perempuan nakal di lokalisasi Dolly? Apakah seseorang diciptakan untuk menjadi preman?atau seseorang yang suka celetak celetuk tak bermanfaat itu sudah bawaan orok?

Mengkaji manusia dan perilakunya sangat menarik dan sekaligus sangat kompleks karena manusia itu unik dan paradoksal. Manusia disebut makhluk paradoksal karena sebagai pribadi ia merupakan kesatuan jiwa dan raga. Raga, tunduk pada hukum-hukum materi serta dibatasi oleh ruang dan waktu. Sedangkan jiwa tidak tunduk pada hukum-hukum materi dan tidak dibatasi ruang dan waktu.

Pada bidang kedokteran jiwa manusia itu letaknya di benda bulat dengan konsistensi lunak bernama otak. Pada neuropiskologi perkembangan perilaku manusia didasarkan atas fungsi otak. Otaklah yang mengatur dan menggerakkan apapun yang kita lakukan dan kita rasakan. Setiap perilaku, baik pikiran, perasaan ataupun tindakan manusia berawal dari otak.  Aktivitas mental kita terjadi di otak dan otak bertindak sebagai pusat komando pengendalian perilaku. Otak dan perilaku saling terkait, keduanya dangat kompleks, dan secara evolusioner keduanya berjalan bersama-sama. Otak yang menerima stimulasi dan mengembangkan kemampuan manusia melalui sel-sel otak, neuron dan sinapsisnya. Otak memiliki 100 miliar neuron – 5 triliun neuralgia. Setiap neuron membentuk sampai 200 ribu sambungan ke neuron lainnya yang beisi informasi dari aktivitas yang dilakukan manusia.

Perilaku itu sendiri secara populer berarti berbuat sesuatu (doing things). Perilaku berbuat sesuatu tidak mengharuskan adanya gerakan karena berdiam diri saja sudah termasuk ke dalam perilaku. Hess pada tahun 1930an telah membuktikan bahwa terdapat beberapa pusat di dalam otak yang sangat terkait dengan perilaku seperti “pusat lapar”, “pusat seks”, “pusat agresi”, dan lain lain. Perilaku juga melibatkan semua mekanisme internal seperti proses kognitif dan motivasi, pengalaman belajar dan ingatan. Semua mekanisme internal itu bergantung pada sistem saraf yang sedang berkembang baik. Senang, puas, marah, kasih sayang, takut, sedih merupakan jenis perilaku yang dipengaruhi dan diarahkan oleh perasaan umum.

Perasaan umum atau pusat emosi pun terdapat di dalam otak yaitu di amygdala. amygdala sebagai sumber impuls emosi, gudang emosi. Emosi sangat penting bagi rasionalitas. Goleman (1995) mengungkapkan bahwa dalam liku-liku perasaan dengan pikiran, kemampuan emosional membimbing keputusan individu dari waktu ke waktu saling membahu dengan pikiran rasional mendayagunakan atau tidak mendayagunakan pikiran itu sendiri. Amygdala inilah yang mampu menjelaskan mengapa emosi bisa mengalahkan rasio. Amygdala mampu mengambil alih kendali tindakan, sewaktu otak masih menyusun keputusan. Kemungkinan ‘pembajakan’ emosi ini lebih besar terjadi pada orang yang memiliki kecerdasan emosi rendah.

Begitulah sekilas tentang kaitan otak dengan perilaku dan perasaan manusia.Semua perubahan besar dalam struktur saraf ini paralel dengan perubahan macam kompleksitas perilaku. Makin kompleks sistem saraf maka makin kompleks pula perilaku yang ditampilkan. Belahan-belahan atau pusat di dalam otak yang memiliki peranan masing-masing dalam seluruh jenis perilaku dan emosi manusia. Sirkuit penentu dalam otak yang dibangun dari sejak manusia dilahirkan terus berkembang dan menjadi karakteristik manusia itu sendiri. Mengapa ada manusia yang cenderung tenang, panik, pemarah, pendiam, periang, dan lain lain. Maupun ada manusia yang perilaku menyimpang, agresif, tidak bisa mengendalikan nafsu seksualnya, licik, dan berbagai perilaku kriminal lain.

Penelitian awal percaya bahwa neurogenesis atau penciptaan neuron pada otak berhenti segera setelah manusia dilahirkan ataupun perubahan pada otak hanya terjadi selama masa kanak-kanak. Pada dewasa awal dipercaya bahwa struktur fisik otak telah menjadi sesuatu yang permanen. Namun saat ini otak dipahami sebagai sesuatu yang memiliki kapasitas dan kompleksitas luar biasa. Otak mampu menyusun kembali jalur-jalurnya, sambungan-sambungannya dengan menciptakan koneksi baru dan bahkan menciptakan neuron baru. Penelitian modern membuktikan bahwa otak terus membangun jalur neural baru dan mengubah jalur yang telah ada sebagai hasil adaptasi pada pengalaman baru, mempelajari informasi baru dan menciptakan memori baru.

Kemampuan otak untuk berubah dan beradaptasi sebagai hasil dari pengalaman atau dikenal sebagai neuroplastisitas atau plastisitas otak (brain plasticity). Plastisitas otak juga berarti kemampuan otak berubah secara fisik, fungsi dan kimiawi-sepanjang hidup manusia. Plastisitas otak berlaku sepanjang hidup, bukan hanya pada masa kanak-kanak, bervariasi berdasarkan usia dan selama masa hidup spesifik. Plastisitas otak ini berkelanjutan sepanjang hidup dan melibatkan sel-sel otak daripada neuron. Lingkungan pun memainkan peran utama dalam proses plastisitas otak. Plastisitas otak melingkupi fungsi, struktur dan kimiawi otak. Secara fungsi berarti kemampuan otak untuk berubah secara fungsi dari area yang rusak ke area yang tidak rusak. Secara struktur berarti kemampuan otak untuk benar-benar mengubah struktur fisiknya sebagai hasil dari pengalaman atau belajar. Plastisitas otak bekerja mengacu pada perubahan sebagai hasil dari input lingkungan.

Konsep yang sederhana. Otak berubah secara fungsi, fisik dan kimiawi sebagaimana kita memperoleh kemampuan baru atau mengembangkan kemampuan. Ini artinya berbagai perilaku manusia turut berkembang, mengalami perubahan atau bahkan terhenti dan mengalami kemunduran seiring dengan perubahan otak yang terus terjadi. Implikasi dari perubahan atau plastisnya otak pada perilaku adalah bahwasannya manusia dapat menentukan perilaku apa yang ingin dia ubah dari dirinya. Perilaku apa yang ingin dikurangi. Tentunya hal ini memerlukan kesadaran atau bahasa saya adalah meng “install” nya dalam pikiran rasional. Kesadaran didapatkan melalui informasi, pengetahuan, muhasabah diri, dan nasihat atau bimbingan.

Tidak ada manusia yang terlahir jahat dan menyimpang. Hanya saja diperlukan kesadaran tinggi akan dirinya. Kesadaran ini adalah hasil dari berpikir. Berpikirnya makhluk yang berakal. Akal lah yang membuat manusia menjadi manusia. Dengan ciri khas otaknya maka manusia menyebut dirinya sebagai Homo Sapiens, manusia, si bijak. Ciri khas manusia adalah berpikir menggunakan akalnya. Otaknya yang plastis yang menjadikan diri manusia memiliki derajat yang tinggi, karena sesungguhnya tinggi rendahnya derajat makhluk ada pada stereotypy vs. plastisitas nya. Perubahan diri akan terus terjadi sebagai hasil dari berpikir dan input lingkungan. Maka berjuanglah dan pandai-pandailah dalam memilih lingkungan. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah SWT.

Advertisement

Kenapa Seseorang Membenci Dirinya Sendiri?

GambarPernah dengar kalimat dari motivator bahwa pada dasarnya para pembenci (haters) adalah seseorang yang justru ternyata paling membenci dirinya sendiri? Atau meskipun seseorang bukan termasuk ke dalam


Kaum haters, tetapi diam-diam ia juga membenci dirinya sendiri sehingga kadang terlihat begitu struggle dalam menjalani hidup. Begitu banyak kata “tapi” dalam setiap kalimat, merasa minder, walaupun terkadang menyebalkan dan kontradiktif. Pepatah “Setiap kita adalah musuh besar bagi diri sendiri” itu mungkin ada benarnya. Perasaan tidak berharga dan kebencian terhadap diri sendiri merupakan suatu realitas menyakitkan dalam kehidupan seseorang. Membenci diri sendiri atau self-hatred dapat membatasi kehidupan seseorang dan sayangnya sangat sedikit individu yang menyadari hal itu.

Membenci diri sendiri membuat seseorang tidak dapat menerima keadaan dirinya dan mulai menjadi orang lain sehingga lama kelamaan sulit menemukan diri sendiri. Padahal dapat menjadi diri sendiri itu merupakan bagian dari kebahagiaan hidup.
Darimana seseorang mendapatkan perasaan itu? Bagaimana self-hatred dapat mempengaruhi kehidupan seseorang? dan bagaimana seseorang dapat membebaskan diri dari sikap negatif atas kritik-kritik yang ada dalam dirinya?

I hate myself” – Apa itu Critical Inner Voice?
Beberapa hari lalu saya membaca status seseorang yang isinya adalah “I hate myself, I wanna die.” Kenapa seseorang bisa membenci dirinya sendiri? Sudut pandang saya sangat terkait dengan sesuatu yang berasal dari diri seseorang itu karena membenci diri sendiri maupun mencintai diri sendiri merupakan aktivitas batin yang sifatnya sangat internal, subjektif. Individu melihat diri mereka sendiri sebagai seseorang yang berbeda dari orang sekitar namun tidak dalam cara yang positif maupun merasa istimewa, melainkan dalam perasaan yang negatif, begitu studi dari Dr. robert dan Lisa Firestone.

Perasaan-perasaan mengenai diri kita sendiri merupakan sesuatu yang wajar karena setiap orang pada dasarnya terbagi-bagi. Menurut Dr. Robert Firestone, setiap kita memiliki “real self“, yang merupakan bagian dari diri yang dapat menerima kita, mengarahkan kita pada suatu tujuan dan pencapaian, dan juga pernyataan hidup. Di sisi lain juga terdapat “anti-self” yang merupakan bagian dari diri kita yang membenci, menolak, paranoid dan juga curiga. Anti-self tersebut diekspresikan dalam bentuk kritik tajam yang ada dalam diri kita sendiri, atau juga disebut dengan critical inner voice.

Pernah dengar bagaimana seorang pelatih berkomentar? Critical inner voice itu seperti seorang internal coach yang selalu berkomentar negatif mengenai kehidupan kita, mempengaruhi bagaimana kita bersikap dan berperasaan terhadap diri sendiri. Critical inner voice dapat mengikis tujuan, impian, dan cita-cita dengan perkataan “Kamu gak akan pernah bisa sukses!” “Gimana sih? Begitu saja nggak bisa!” “Ini nggak akan berhasil.” Bukan hanya itu, critical inner voice pun dapat menyabotase hubungan kita dengan seseorang yang spesial: “Sebagai istri, dia tidak mencintaimu, jangan percaya.” “Pasti ada sesuatu yang salah dengan dia, jauhi dan jangan mau bertemu lagi.” Inner kritik maupun saran destruktif itu dapat menjadi dorongan bagi kita untuk berperilaku destruktif. Pada akhirnya critical inner voice menjadi tampak seperti hendak menjaga kita dari sesuatu yang buruk tetapi justru mendorong kita untuk berperilaku merusak diri. Jika kemudian keputusan kita untuk berperilaku sesuai dengan inner kritik atau saran destruktif itu, maka critical inner voice tetap akan menghukum kita dengan komentar yang menghakimi diri sendiri.
Memang suatu hal yang tidak biasa jika kita melihat diri sendiri melalui kacamata yang ada diluar diri kita. Pada dasarnya kita semua memiliki critical inner voice. Proses pikiran itu begitu kuat berkembang pada individu dimana pada akhirnya akan menjadi susah untuk menyadari dan notice terhadap kemunculan critical inner voice. Kesalahan dari kebanyakan orang adalah tidak mengenali inner kritik tersebut sebagai musuh yang ada di dalam diri, tetapi justru mengira bahwa suara dalam diri kita tersebut sebagai sudut pandang atau opini yang sesungguhnya, dan mempercayai apa yang dikatakan inner voice tersebut.

Darimana Critical Inner Voice Berasal
Membenci diri sendiri merupakan suatu hal yang menyedihkan dan seseorang perlu survive dengan perasaannya itu sepanjang hidupnya. Darimana pikiran seperti itu berasal? Dr. Robert dan Lisa Firestone dalam risetnya menemukan bahwa pikiran itu berasal dari pengalaman negatif pada awal kehidupan seseorang. Bagaimana lingkungan memandang diri kita dan sikap yang ditujukan pada kita membentuk pandangan kita terhadap diri sendiri. Pandangan negatif yang ditujukan orangtua maupun orang lain yang memiliki pengaruh pada kita kemudian terinternalisasi menjadi suatu self-image. Seperti halnya sikap positif orangtua terhadap kita yang membawa pada berkembangnya self-esteem dan kepercayaan diri, begitupun dengan sikap negatif kritik dapat mengembangkan self-esteem dan kepercayaan diri yang rendah.
Bukan untuk menyalahkan orangtua, namun yang perlu disadari bahwa tidak ada orangtua yang sempurna; begitu juga dengan manusia lain. Orangtua menghadapi masa sulit ketika memiliki anak bersamaan dengan perasaan menyakitkan yang tumbuh dari masa lalu mereka. Sehingga mereka dapat bereaksi secara tidak tepat atau mengkritik anak di saat-saat penuh tekanan. Bahkan, inner kritik yang dimiliki orangtua terhadap dirinya sendiri sering dimunculkan pada anak mereka dan kemudian terinternalisasi pada diri anak. Misalnya, jika orangtua sering memperlakukan anak seakan-akan anaknya mengganggu maupun merasa tegang jika sang anak hadir, anak akan merasa bahwa dirinya adalah seorang pengganggu. Lalu si anak tumbuh menjadi begitu pemalu atau terlalu sering merasa bersalah dan menyesal untuk suatu alasan yang tidak tepat pada saat ia dewasa.

Dampak Critical Inner Voice
Sebagai seorang dewasa, critical inner voice memberi berbagai dampak. Seseorang bisa saja beradaptasi dengan critical inner voice tersebut dengan memperlakukannya sebagai seorang coach dan mendengarkan saran-saran destruktifnya. Namun ketika critical inner voice secara berulang mengatakan bahwa kita adalah orang yang tidak berguna, maka di bawah sadar kita akan memilih teman dan rekan yang memperlakukan kita seakan kita memang tidak berguna. Jika critical inner voice mengatakan bahwa kita bodoh, maka kita akan kehilangan kepercayaan diri dan melakukan kesalahan yang seharusnya dapat dihindari. Jika critical inner voice mengatakan bahwa kita tidak menarik, tidak cantik, tidak ganteng, maka kita akan mencari hubungan yang begitu romantis dengan pasangan.
Ketika kita mendengarkan kritik-kritik yang ada dalam diri kita, berarti kita memberinya power untuk mengatur kehidupan kita. Bahkan kita mulai menerapkan inner kritik ini kepada orang lain. Dengan begitu kita merasakan dan memandang dunia melalui filter negatif. Disinilah pikiran-pikiran paranoid dan kecurigaan mulai memasuki benak, sebagaimana kita mulai mengkritisi orang yang melihat kita secara berbeda dari bagaimana critical inner voice itu melihat kita. Sebagai contoh, seseorang yang harus berjuang karena adanya kontradiksi antara bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri dengan feedback positif yang didapatkannya dari orang lain atau lingkungannya.

Bagaimana Seseorang Dapat Menaklukkan Critical Inner Voice
Untuk menghentikan lingkaran self-hatred; kebencian terhadap diri sendiri-seseorang harus belajar menantang inner kritik-nya. Menaklukkan critical inner voice merupakan langkah pertama dalam proses differensiasi atau proses pembedaan. Dari buku The Self Under Siege karya Lisa Firestone dan Dr. Robert, terdapat empat langkah differensiasi, dimulai dari mematahkan pikiran-pikiran destruktif dan sikap yang Anda internalisasi terhadap diri Anda sendiri. Terapi suara ialah suatu proses yang dapat mengidentifikasi dan menghadapi critical inner voice. Proses itu melibatkan pengembangan dari insight (pengertian yang mendalam) terhadap hal yang menjadi sumber critical inner voice, kemudian membantah serangan kritik itu melalui sudut pandang yang realistis terhadap diri Anda sendiri. Langkah berikutnya adalah menghadapi dorongan perilaku destruktif yang ditimbulkan oleh critical inner voice.
Langkah kedua dari differensiasi melibatkan sifat negatif dalam diri Anda yang Anda tiru dari orang tua atau figur penting lain selama masa perkembangan. Langkah ketiga dari differensiasi ialah menyerah pada pola-pola pertahanan yang Anda bentuk sebagai upaya adaptasi dari rasa sakit yang dialami saat masa kanak-kanak. Pada masa kanak-kanak, kita membentuk pola pertahanan sebagai bentuk proteksi dari lingkungan yang mengancam. Tetapi pola pertahanan yang menjadi pikiran dan perilaku tersebut dapat merugikan pada masa dewasa nanti. Misalnya ketika pada masa kanak-kanak seseorang merasa diganggu atau diintimidasi oleh lingkungannya, maka ia akan tumbuh dengan rasa takut dan kemudian mencari isolasi. Sehingga ketika dewasa ia menghindari intimasi. Seseorang yang terus berada pada adaptasi masa lalu yang bersifat destruktif, maka ia cenderung menderita karena rendahnya self-esteem. Seseorang harus terus berjuang untuk menjadi dirinya sendiri ketika segala tindakannya sangat dipengaruhi oleh sejarah masa lalu.
Langkah terakhir dari differensiai ialah memperhitungkan keyakinan, nilai, dan idealisme Anda. Bagaimana Anda ingin menjalani kehidupan Anda? Apa saja aspirasi masa depan Anda? Ketika kita terpisah dari inner kritik yang ada dalam diri kita, maka kita dapat lebih baik untuk mengenali diri sendiri dan memenuhi kehidupan kita dengan integritas. Kita dapat mengambil tindakan dan langkah yang merefleksikan keinginan dan harapan yang memberikan arti hidup. Jika kita benar-benar ingin menghadapi musuh internal berupa critical inner voice, maka lama-kelamaan inner kritik itu menjadi lemah dan kita dapat membebaskan diri dari perasaan self-hatred dan hidup dengan eksistensi yang utuh.