Menjadi Tuan Bagi Pikiran Sendiri

Oleh : Intan Sahara (Dir. Konseling dan Konsultan Askaf Family Center, Askaf Foundation, Social Working)

Manusia merupakan salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki elemen berbeda dari makhluk lainnya. Elemen-elemen tersebut adalah tubuh, hati, dan pikiran. Pikiran yang menggerakkan segala perilaku manusia. Tuhan memberikan satu kebebasan kepada manusia, yakni kebebasan untuk berpikir dan berkehendak.

Dalam terminologi psikologi, pikiran diatur oleh sebuah mekanisme atau proses yang disebut kognitif. Dari proses itulah dihasilkan keputusan-keputusan untuk mengendalikan apa yang kita lakukan dan apa yang tidak seharusnya kita lakukan.

Pikiran akan menjadi suatu hal yang nyata dalam kehidupan ini. Pikiran menghasilkan aksi dan aksi menghasilkan reaksi. Pikiran seumpama akar sedangkan sesuatu yang dihasilkan pikiran seumpama buah dan bunga dari pohon kehidupan. Kebahagiaan, ketidakbahagiaan, sukses dan kegagalan,mood dan apa yang dirasakan merupakan buah dan bunga dari bibit yang dibentuk dalam pikiran kita.  Dalam suatu kata-kata bijaksana dari Siddharta Gautama :  “ All that we are is the result of what we have thought.”

Namun sering kita terjebak pada suatu kondisi dimana kita tidak dapat mengatur diri sendiri.  Mengatur diri sendiri berarti mengendalikan pikiran. Bagi banyak orang, terasa begitu sulit untuk dapat mengatur dirinya dan kehidupannya. Secara kontras sebagian orang dapat mengendalikan pikirannya, sehingga ia dapat dengan mudah meraih impian, menghindari hal hal yang tidak bermanfaat dan memberikan pengaruh pada orang lain.

Terdapat dua ide bagi fenomena psikologi pikiran :

  1. Kita cenderung tidak mengamati penyebab yang tidak terlihat melainkan pada efek atau akibat.
  2. Penyebab seringkali merupakan sesuatu yang tersembunyi atau tidak tampak, tetapi tidak dapat dipisahkan dari seluruh efek/akibat yang dihasilkan pada dunia fenomenal.

Manifestasi dari fenomena tersebut dalam kehidupan sehari hari adalah misalnya saat  Anda ingin berhenti merokok. Saat keinginan untuk berhenti merokok mulai dilaksanakan, maka secara tidak sadar Anda berpikir untuk tidak memikirkan tentang rokok atau keinginan untuk merokok serta mengatakan pada diri Anda : “Saya tidak akan merokok lagi”.  Sebaliknya, Anda mendapatkan diri Anda terus menerus memikirkan rokok, pikiran tentang rokok memenuhi isi kepala dan keinginan untuk merokok semakin kuat.

Hal yang sama terjadi pada seseorang yang melakukan diet dengan mengurangi asupan makanan tertentu. Misalnya mengurangi cemilan. Dengan berpikir menghindari cemilan, tidak akan ngemil lagi,   justru akan membuat seseorang semakin berpikir mengenai cemilan dan tubuh akan meresponnya dengan dorongan untuk ngemil.

Demikian juga keinginan  untuk merubah perilaku yang kurang baik terkadang tanpa sadar dilakukan dengan cara yang justru malah mempertinggi kemunculan perilaku kurang baik tersebut. Seperti saat seseorang mengatakan pada dirinya sendiri ‘jangan malas lagi’, ‘jangan terlambat lagi’.

Bukan hanya saat bermaksud untuk menghentikan kebiasaan, keinginan akan sesuatu, akan tetapi juga pada pikiran-pikiran yang tidak diinginkan. Terkadang pikiran menakutkan yang tidak diinginkan muncul bisa dikarenakan seseorang memiliki kenangan buruk atau trauma terhadap suatu peristiwa kehidupan sehingga sedikit banyak mempengaruhi kualitas kehidupannya.  Sudah menjadi insting otomatis bagi seseorang untuk menghilangkan pikiran itu dari kepala  atau bahkan berpura pura bahwa  pikiran itu tidak ada, akan tetapi yang terjadi justru pikiran itu semakin menghantui.

Fenomena di atas disebabkan oleh suatu proses kognitif yang dikenal dengan istilah thought suppression. Thought suppression adalah upaya yang dilakukan secara sadar guna menghilangkan dengan paksa informasi-informasi yang tidak diinginkan yang muncul dipikiran atau kesadaran seseorang.  Hal itu menjadi sesuatu yang tidak dapat tertahankan untuk menekan suatu pikiran yang muncul, yang membuat tidak nyaman, dan melihatnya sebagai suatu ekspresi yang mengancam dari diri seseorang. Hal tersebulah yang membuat Freud fokus pada sifat dasar dari alam pikiran yang dimunculkan ke kesadaran. Sebelum lebih lanjut mengenai thought suppression, mari kita pahami istilah dibawah ini.

Brain teaser : selama dua menit kedepan, pikirkan apapun yang ingin Anda pikirkan, kecuali berpikir tentang gajah berwarna merah. Pikirkanlah apapun yang ingin Anda pikirkan, tetapi jangan memikirkan gajah berwarna merah. Tentu saja yang muncul di mental imagery Anda adalah seekor atau lebih gajah berwarna merah, setelah diinstruksikan untuk melakukan suppressing pada pikiran itu. Wegner adalah peneliti pertama yang meneliti tentang hal itu dan dikenal dengan istilah “white bear” (Wegner 1987). Penelitian tersebut telah membuktikan bahwa terdapat sifat dasar yang paradoks atau berlawanan dari proses thought suppression ; yang merupakan sebab dari kembalinya pikiran-pikiran yang tidak diinginkan ; fenomena dimana mereka menyebutnya dengan rebound effect. (Wegner, Schneider, Carter, & White, 1987)

Mekanisme rebound effect yang menyebabkan hal yang kita inginkan justru terjadi sebaliknya. Apa yang kita katakan pada diri kita disaat menginginkan untuk keluar dari suatu keadaan seringkali menjadi “instruksi” untuk melakukan suppression yang kemudian menjadi alarm atau pengingat dari suatu pikiran yang tidak diinginkan. Instruksi tersebut seolah-olah menjadi isyarat atau perintah bagi orang untuk memikirkan sesuatu lebih dari yang mereka biasanya lakukan. Terdapat pengaruh yang kuat dari suppression tersebut pada keadaan intrapersonal (misalnya emosional dan kognitif) dan proses interpersonal (misalnya prasangka) serta hubungan thought suppression pada psikopatologi.

Jika thought suppression merupakan proses yang sempurna, idealnya pikiran yang di suppressed tersebut akan hilang, akan tetapi  studi  yang dilakukan para ahli telah membuktikan bahwa proses thought suppression merupakan proses yang tidak sempurna.

Dengan mengetahui mekanisme pada pikiran membuat seseorang lebih mudah untuk dapat mengendalikan pikirannya sendiri, yang tentunya akan berimplikasi pada banyak hal dalam kualitas kehidupan. Para ahli telah banyak meneliti hal yang terkait pikiran yang merupakan variabel konstruk, sehingga kita tidak perlu membedah otak secara fisik hanya untuk mengubah apa yang ada dalam pikiran.

Terdapat cara atau teknik untuk ‘menetralisir’ pikiran yang tidak diinginkan, mengubah pikiran buruk, mengubah kebiasaan buruk seperti merokok, ataupun sukses menjalankan diet antara lain :

Positive Self Talk

Cara yang pertama adalah dengan memanfaatkan self talk yang ada pada diri setiap orang. Self talk adalah bicara pada diri sendiri. Pembicaraan pribadi itulah yang oleh sebagian orang disebut dengan kegiatan berpikir atau itulah pikiran Anda. Berdasarkan prinsip bahwa apa yang orang katakan pada dirinya sendiri mempengaruhi perilaku mereka (Ellis, 1976), maka self talk adalah sesuatu yang menentukan akan menjadi seperti apa diri Anda. Self talk telah lama digunakan dalam modifikasi perilaku kognitif (Meichenbaum, 1977).  Self talk mempengaruhi mood dan emosi yang pada akhirnya mempengaruhi perilaku seseorang. Bagan dibawah ini menggambarkan bagaimana self talk bekerja :

 Gambar

 

Bagan Oleh Intan Sahara

Self talk bekerja dengan mempengaruhi tindakan kita. Tindakan tersebut lama lama menjadi suatu kebiasaan dan kebiasaan menjadi karakter.

Dengan mengetahui bagaimana self talk bekerja, maka kita dapat memahami bahwa selftalk  menjadi faktor penentu yang dapat membantu kita untuk mengubah kebiasaan buruk dan perilaku yang tidak diinginkan. Kunci untuk memanfaatkan selftalk adalah dengan menyadari atau mengenali apa yang kita katakan pada diri sendiri, dengan itu kita dapat mengendalikan selftalk tersebut. Selanjutnya, mulailah dengan menciptakan pembicaraan yang positif dengan diri Anda. Fokus pada pikiran-pikiran positif. Bicara pada diri Anda sendiri menggunakan kata-kata positif dan membangun. Kata-kata positif dan membangun tersebut ialah dengan menghindari kata “tidak” dan  “jangan”.  Mengapa? Karena jika Anda menggunakan bentuk kata negatif seperti “tidak” atau “jangan”, itu berarti Anda sedang melakukan suppression pada pikiran Anda sendiri yang akan mengakibatkan mekanisme rebound effect terjadi. Untuk lebih jelasnya, causal loop diagram berikut ini menggambarkan bagaimana jika Anda menggunakan positive self talk dan negative selftalk dengan menggunakan kata “tidak” atau “jangan”.

 Gambar
 Bagan Oleh: Intan Sahara

Seperti ketika Anda ingin berdiet dengan berhenti ngemil, katakan pada diri Anda bahwa Anda mulai hari ini menjalani gaya hidup sehat dan hanya akan memakan makanan yang sehat seperti sayur dan buah. Jangan sekali-kali Anda mengatakan “saya tidak akan ngemil lagi, saya tidak akan memakan makanan berlemak lagi, dan jangan sampai saya menyentuhnya”.

Selain menggunakan kata-kata positif dalam self talk, gunakan juga kalimat yang spesifik mengenai apa yang Anda ingin capai atau ubah, dengan melibatkan emosi dan keinginan kuat.

Change our attitude toward the unwanted thought

Langkah pertama memastikan bahwa Anda hanya menerima pikiran-pikiran positif pada diri Anda. Namun jika pikiran negatif terlanjur dibiarkan merasuki pikiran, tindakan suppression hanya akan bersifat destruktif.  Apa yang harus dilakukan agar seseorang terhindar dari tindakan suppression pada pikiran? Hal itu penting karena seringkali tidak disadari bahwa kita ternyata melakukan suppression terhadap pikiran.

Ide dasarnya adalah bahwa pikiran yang menetap pada diri seseorang awalnya karena ia memberikan perhatian pada pikiran tersebut kemudian tenggelam kedalam suatu reaksi emosional. Reaksi emosi merupakan sumber energi bagi suatu pikiran yang ada, baik itu reaksi emosi positif ataupun negatif. Sekali Anda memiliki reaksi emosional pada pikiran tertentu, Anda akan terjebak kedalamnya, pikiran tersebut akan menetap, sampai reaksi emosi tersebut terselesaikan. Reaksi emosi yang terselesaikan berarti juga hilangnya sumber energi bagi pikiran tersebut. Seperti ketika Anda mendapatkan pujian dari seorang kawan,  seringkali secara tidak sengaja Anda mengingat pujian dan perasaan yang dirasakan saat itu. Hal itu meningkatkan tingkat kepercayaan diri dan mood Anda setiap kali mengingatnya. Sayangnya kita cenderung lebih fokus pada hal negatif daripada hal positif.  Jika seorang kawan menghina lalu Anda merasa kesal, hampir dapat dipastikan Anda memiliki reaksi emosional yang lebih kuat dan cukup lama pada hal tersebut.  Hal ini dapat menjelaskan proses traumatis pada seseorang akibat mengalami kejadian yang kurang menyenangkan.

Oleh Karena itu perlu adanya perubahan dalam sikap kita. Dengan merubah sikap berarti seseorang telah merubah bagaimana ia bereaksi terhadap pikiran tersebut. Perubahan dalam sikap akan dengan cepat mengilangkan reaksi emosional yang dimiliki terhadap suatu pikiran yang ada. Ketika reaksi emosional telah dikurangi secara signifikan, pikiran yang tidak diinginkan pun akan hilang. Menghilangkan pikiran yang tidak diinginkan, berarti merubah tindakan dan kebiasaan kita.

Triknya adalah bukan bagaimana berupaya untuk membebaskan diri dari suatu pikiran, melainkan pada bagaimana kita memiliki reaksi baru terhadap pikiran itu. Kita tidak dapat mengendalikan apa yang datang pada pikiran kita, akan tetapi kita dapat mengendalikan bagaimana kita bereaksi dan bersikap terhadapnya. Kita perlu menghadapinya, menerimanya dan memutuskan bahwa pikiran yang tidak diinginkan tidak perlu diperhatikan sehingga kita tidak meresponnya secara emosional. Oleh karena itu, kita harus dapat menerima dan merasa nyaman dengan apapun yang datang pada pikiran kita, jangan bersembunyi darinya atau mencoba untuk menghilangkannya.

Dua trik yang dipaparkan diatas merupakan cara atau teknik yang dapat membantu Anda agar dapat memahami keadaan dan mekanisme pikiran Anda, sehingga dapat menjadi tuan di pikiran Anda sendiri.

References

  1. Leonard F. Koziol, Debrah Ely Budding, Dana Chidekel . (2011). From Movement to Thought: Executive Function, Embodied Cognition, and The Cerebellum. USA : pringer Science+Business Media, LLC.
  2. Swami Paramananda. (1923). The Message of The East: Psychology of Thought. Gann Study Group. Vedanta Monthly.
  3. Richard M. Wenzlaff, Daniel M. Wegner. (2000). Thought Suppression. Annual Review Psychology, 51:59-91.
  4. Daniel G. Amen, MD.(1998). Change Your Brain Change Your Life. Times Book.
  5. Bowen S., Witkiewitz K., Dillworth T.M., Chawla N. Simpson T.L., Ostafin B.D., et al. (2006). The Role of Thought Suppression in The Relationship Between Mindfulness Meditation and Alcohol Use. Journal Psychology of Addictive Behaviours.
  6. Hooper, N., et al., (2011) Comparing thought suppression and acceptance as coping techniques for food cravings. Journal of Eating Behaviors, doi :10.1016/j.eatbeh.2011.10.002
  7. Kaori Araki, Joseph K. Mintah, et al. (2006), Belief in Self talk and Dynamic Balance Performance. Journal of Sport Psychology.
  8. A. Hatzigeorgiadis, et al. (2008). Mechanisms underlying the self-talk–performance relationship: The effects of motivational self-talk on self-confidence and anxiety. Journal of Psychology Sport and exercise, 10, 186 – 192.
Advertisement