Inferiority Complex Syndrome Sebagai Salah Satu Penyebab Penyakit Sosial

Oleh : Intan Sahara

Hampir setiap orang pasti pernah merasa inferior (rendah). Manifestasi dari inferior dalam kehidupan sehari hari kita kenal dengan sebutan minder. Minder berawal dari penilaian diri yang buruk. Individu merasa tidak kompeten, tidak mampu, rendah, hina, tidak berguna, dan berbagai perasaan negatif tentang dirinya sendiri. Perasaan minder tersebut muncul karena individu yang mengalami inferioritas merasa atau betul-betul mempunyai kekurangan pada fisik ataupun psikisnya. Terkadang rasa inferior tanpa disadari dipupuk oleh individu  dengan terlalu sering membandingkan kekurangan diri sendiri dengan kelebihan orang lain. Adapun gejala inferioritas yang paling umum, diantaranya :

  • Perilaku mencari perhatian. Dengan berbagai cara, subjek inferior secara terus menerus berusaha mendapatkan perhatian.
  • Dominasi, yaitu jika seseorang berbuat seolah-olah berkuasa atas sesuatu yang sebenarnya justru menyebabkan dirinya merasa minder.
  • Eksklusif, yaitu perilaku tidak terlibat dalam aktifitas sosial dan lebih suka menyendiri akibat banyak kekurangan.
  • Kompensasi, jika seseorang menyembunyikan perasaan inferiornya dengan mengembangkan diri, sehingga akhirnya mendatangkan respek dan perhatian dari orang lain.
  • Kritis, yaitu jika seseorang memiliki kebiasaan mengkritik orang lain dalam upaya menciptakan dan memelihara citra bahwa dirinya lebih mampu dari orang lain.

Terdapat tiga aspek yang menyebabkan rasa inferior pada individu. Aspek tersebut sebagai berikut :

  1. Aspek fisik
  2. Aspek ekonomi
  3. Aspek kemampuan Intelektual

Inferior dapat menjangkiti siapa saja dari kalangan manapun. Jika rasa itu dikembangkan dan melahirkan tujuan-tujuan superior guna mengkompensasi rasa inferioritasnya, maka itu bukan lagi suatu hal yang wajar melainkan sudah menjadi bentuk kelainan yang disebut inferiority complex syndrome. Inferiority complex syndrome membuat individu memandang dirinya rendah, membenci dirinya sendiri, terasing dari lingkungannya, dan sangat mengganggu aktivitas kehidupannya. Dengan merujuk pada teori psikologi individual tentang perasaan inferioritas, Alfred Adler, setiap individu mempunyai kapasitas  untuk mempromosikan perasaan inferioritas pada orang lain. Bentuk promosi perasaan inferioritasnya itu dapat bersifat negatif ataupun positif. Bentuk promosi negatif dari manifestasi inferiority complex syndrome adalah penyakit sosial.

Penyakit sosial adalah bentuk perilaku yang dilakukan oleh seseorang yang tidak sesuai norma dan nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Tolak ukurnya bukan baik atau buruk, benar atau salah tetapi berdasarkan ukuran norma dan nilai sosisal dalam masyarakat. Penyakit sosial tersebut dibagi kedalam dua bentuk penyimpangan yaitu individu dan kelompok. Beberapa penyakit sosial yang lahir dari perilaku individu yang mengalami inferiority complex syndrome :

  • Perilaku bullying
  • Perkosaan
  • Bunuh diri

Perasaan inferior dan kompensasi pertamakali dipelajari oleh Alfred Adler pada kecacatan jasmani dan kompensasi. Menurut Alfred Adler dalam bukunya Study of Organ Inferiority and Its Physical Compensation (1907), mendeskripsikannya sebagai  proses dari kompensasi atas ketidakmampuan atau keterbatasan fisik seseorang. Tergantung pada sikap yang diambil atas kekurangan fisiknya, kompensasi atas ketidakmampuan atau keterbatasan tersebut bisa saja memuaskan atau tidak. Dari studinya pada kecacatan jasmani dan kompensasinya, Adler mulai melihat bahwa setiap individu sebagai seseorang yang memiliki perasaan inferior. Setiap individu memiliki perasaan inferior baik itu dia sadari ataupun tidak. Inferioritas merupakan perasaan yang muncul akibat adanya kekurangan psikologis atau sosial yang dirasakan secara subjektif maupun akibat kelemahan atau cacat yang nyata.

Individu memiliki kekuatan perjuangan yang dibawa sejak lahir. Terdapat perasaan inferior untuk dapat diatasi oleh individu dan untuk mencapai tingkat perkembangan yang lebih tinggi dalam hidupnya. Proses inferioritas sudah ada sejak bayi. Kelemahan fisik akan melahirkan rasa ketergantungan yang sangat terhadap orang dewasa. Bayi yang lemah secara fisik menyadari akan perasaan yang tidak berdaya tersebut untuk menentang kekuatannya. Menurut Adler, Bayi atau anak mengembangkan perasaan inferioritas yang lebih kuat.

Sisi inferioritas Inferioritas menurut Adler bukan ditentukan oleh faktor genetik tetapi lebih kepada fungsi lingkungan dimana anak tidak berdaya dan cenderung tergantung pada orang dewasa. Inferioritas mutlak dan yang lebih penting adalah dibutuhkan. Inferioritas membuat orang menjadi termotivasi untuk berusaha, untuk maju, untuk terus menjadi lebih baik lagi dan untuk sukses. Gerakan untuk maju dan meningkat merupakan hasil dari usaha kompensasi inferiority feeling.

Penyebab inferiority complex berawal dari anak dengan dua perlakuan berbeda, yaitu anak yang dimanjakan (spoiling child) dan anak yang ditolak (Neglected child). Kedua perlakuan ekstrim tersebut berpotensi melahirkan perasaan inferiority complex. Anak yang dimanjakan oleh kedua orangtua ataupun lingkunganakan merasa sebagai pusat perhatian dan ia menyadari bahwa hampir semua keinginannya akan dikabulkan lingkungan. Dari kondisi pengasuhan seperti itu, ia membangun sebuah ide bahwasannya ia adalah orang yang paling penting (the most important person). ketika keyakinan terbangunnya itu dihadapkan pada kenyataan saat memasuki dunia sekolah, anak tersebut akan merasa shock. Lingkungan rumah yang membuainya dengan kemanjaan sangat bertolak belakang dengan dunia sekolah. Hal tersebut dapat membuat anak mengembangkan perasaan inferiornya.

Inferiority pada perkembangan anak yang ditolak (Neglected child) berawal dari keadaan anak yang dirinya tidak diinginkan, ditolak, dan perlakuan berbeda dari orangtuanya. Kondisi itu melahirkan sebuah perasaan ditolak lingkungan dan tidak diinginkan. Anak menjadi    kekurangan cinta dan kasih sayang dan menemukan dirinya merasa tidak aman dan nyaman dengan lingkungan. Dari situ anak mengembangkan perasaan tidak berharga, marah, dan tidak percaya pada lingkungan. Hal itu berpotensi sebagai media berkembangnya perasaan inferior yang dapat menjadi inferiority complex.

Inferiority complex terjadi jika individu tidak mampu mengkompensasi inferioritasnya. Menurut Adler, untuk menjadi manusia, berarti merasakan dirinya inferior. Jadi dia memandang bahwa inferioritas merupakan sesuatu yang vital sebagai penentu tingkah laku dan bukan merupakan suatu abnormalitas. Bahkan inferior dapat menjadi sesuatu yang mendorong individu agar mau belajar dan berusaha lebih baik lagi. Akan tetapi individu yang jiwanya tidak sehat akan mengembangkan perasaan inferiornya menjadi berkembang dan melahirkan tujuan sebagai superior personal.

Perasaan inferior itu diolah oleh individu dan dapat melahirkan sikap atau keputusan yang berbeda atas hal itu. Individu yang memiliki perasaan tak lengkap (inferior) yang normal akan mengkompensasi hal itu pada minat sosial. Minat sosial tersebut dijadikan landasan untuk berjuang mencapai tujuan final sehingga sukses dapat dipersepsi dengan jelas. Sebaliknya pada individu yang mengembangkan inferiotitasnya, tujuan final dipersepsi kabur, karena individu tersebut berjuang agar menjadi superior. Hal yang dilakukannya adalah menggapai keuntungan pribadi yang melahirkan superioritas pribadi pula. (Bersambung..)

Gambar

Advertisement